Tips Jitu Mengatasi Mata Lelah

By: Verry

Mata Anda lelah atau capek karena seharian beraktifitas atau aktif di depan komputer? Banyak penyebab mata lelah. Diantaranya terlalu lama di depan layar komputer, terlalu lama menonton tv, terlalu lama bermain handphone, banyak cara bisa dilakukan untuk mengatasi mata lelah. Dari pengalaman beberapa tipsberikut yang verry berikan mudah mudahan bisa membantu anda.

1. Mengompres mata dengan handuk atau tisu dingin, caranya : Rendamlah kain, handuk atau tisu ke dalam air dingin lalu tempatkan di mata, setelah beberapa saat angkat handuk dan ulangi lagi hingga mata terasa segar. Cara ini juga bisa membantu menghilangkan mata gatal.

2. Mencuci mata dengan air dingin beberapa kali sehari bisa membantu merilekskan mata dan mengurangi ketegangan yang memicu kelelahan.

3. Menempatkan sendok dingin di mata. Salah satu pengobatan rumah yang sederhana untuk mata lelah adalah meletakkan dua sendok ke mata yang sebelumnya sudah ditaruh di dalam lemari es.

4. Menempatkan irisan mentimun, kentang atau strawberry di mata, caranya potong mentimun atau kentang menjadi irisan lalu tempatkan di mata selama 15-20 menit. Bisa juga dengan meletakkan strawberry yang sebelumnya sudah disimpan di lemari es beberapa saat di kelopak mata sambil terpejam.

5. Menggunakan kantong teh dingin, caranya Seduh 2 kantong teh ke dalam rebusan air di panci kecil, setelah mendidih matikan lalu dinginkan untuk mengeluarkan panasnya. Setelah kantong teh benar-benar dingin, tempatkan di mata dan buatlah kondisi rileks.

6. Merendam kapas bola dengan susu dingin atau air mawar, caranya Ambil semangkuk susu dingin atau air mawar, lalu celupkan kapas bola ke dalamnya. Setelah itu letakkan di kelopak dengan posisi mata tertutup.

Uppss jangan lupa tetap banyak makan makanan yang bergisi dan melengkapi asupan makanan anda dengan banyak vitamin.Sukses untuk anda

 

Iklan
Dipublikasi di Aneka Tips, Kesehatan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Pentingkan Kualitas Dan Kepuasan Konsumen

Oleh Winantyo

Kualitas bagi sejumlah besar CEO dan pimpinan bisnis merupakan faktor terpenting  dalam meraih keuntungan berjangka panjang dan kesuksesan perusahaan mereka. “Perjalanan” kualitas menduduki peringkat pertama kunci sukses tersebut baru muncul pada era tahun 1970-an. Sebelumnya, tepatnya pada akhir Perang Dunia ke-2, konsumen berasumsi bahwa mereka telah mendapat barang atau jasa terbaik yang ada dengan membeli atau memanfaatkan produk atau jasa sepanjang ‘made in USA’. Pada era 70-an tersebut, konsumen mulai memperoleh alternatif produk-produk unggul lain, khususnya barang-barang elektronik buatan Jepang. Konsumen semakin mudah memperoleh alternatif atau setidaknya memperoleh informasi lain mengenai barang atau jasa.

Keadaan di atas menyebabkan, konsumen jadi mengharapkan lebih terhadap suatu barang atau jasa. Konsumen mulai menyadari bahwa mereka dapat meminta, dan bahkan dapat berharap untuk memperoleh barang yang lebih berkualitas dengan harga yang kompetitif. Sehingga konsep; ‘semakin tinggi kualitas semakin mahal suatu barang’, mulai bergeser kedalam konsep Jepang yang mengkombinasikan harga murah dengan tambahan mutu yang lebih baik.

Bagaimana perusahaan-perusahaan Jepang berubah dengan cepat dari citra penghasil barang kualitas rendah menjadi penghasil barang yang berkualitas. Ada cukup banyak alasan, sebagian besar karena adanya perubahan dan kesempatan. Krisis energi pertengahan tahun 70-an misalnya, menyebabkan melemahkan daya beli pengguna kendaraan boros bahan bakar ala Amerika dimana pada saat yang sama ‘Honda Accord’’ yang jauh lebih hemat, diluncurkan di Amerika. Hal ini memunculkan citra tersendiri bagi produk Jepang. Peran penting media massa yang terus-menerus menyediakan laporan kualitas barang menjadi promosi gratis, khususnya produk-produk Jepang. Konsumen Amerika, dan konsumen kini di belahan dunia lainnya, menjadi peka terhadap nilai dan kualitas (quality and value conscious).

Kualitas menjadi sangat penting sehingga mulai dikelola, sampai dengan munculnya apa yang disebut dengan Total Quality Management / TQM. Beberapa tokoh yang sangat berpengaruh terhadap peningkatan kesadaran berkualitas ini dapat kita sebutkan; Walter Shewhart yang menjadi Bapak pengendali kualitas dengan metode statistik, W. Edward Deming dengan roda PDCA-nya, Joseph M. Juran yang bersama pendahulunya, W.E. Deming, berjasa besar dalam gerakan peningkatan kualitas di Jepang sangat focus dengan rencana stratejik kualitas (strategic quality planning), dan Philip Crosby yang menekankan biaya-biaya akibat kualitas yang buruk, yang secara umum tidak disadari di Amerika pada saat itu.

Pada era 1980-an Armand V. Feigenbaum memperkenalkan total quality control / TQC yang mencerminkan upaya yang sungguh-sungguh dari manajemen sampai dengan pekerja dalam menghasilkan barang dengan kualitas yang berkelanjutan. Adalah Kaoru Ishikawa yang sangat dikenal dengan memperkenalkan quality circle. Ishikawa juga menekankan pentingnya pemahaman ‘internal customer’ dan tools dalam circle seperti diagram dan fishbone[1] Sebagaimana Feigenbaum, Ishikawa juga melihat inisiatif kualitas diperlukan untuk diterapkan pada setiap jenjang tingkatan dan semua karyawan terlibat. Dalam mencapai hal tersebut dapat dibentuk gugus kualitas (quality circle) berupa kelompok karyawan antara 5 sampai dengan 10 orang yang memantau hasil dan mengusulkan perbaikan.

Di Indonesia gerakan ini disebut Gugus Kendali Mutu (GKM) atau Quality Control Circle (QCC) dan salah satu kelompok bisnis yang antusias menjalankan gerakan ini adalah Astra Group. Pada tahun 1982, Astra memutuskan Total Quality Control / TQC sebagai system manajemen Astra. Tahun berikutnya, yakni tahun 1983, Astra memulai training-training masif TQC dan sejak 1985 hingga saat ini perlombaan adu improvement dalam bentuk konvensi terus dijalankan.

Pada setiap training TQC di Astra, salah satu tujuan dilakukannya QCC selain meraih peningkatan di bidang kualitas, juga meningkatkan hubungan antar-manusia (dalam hal ini para pekerja yang terlibat dalam QCC) menjadi lebih baik. Basic Mentality sebagai pilar dasar terjadinya pola pikir pekerja yang ber-QCC mengedepankan penghargaan antar manusia yang mempunyai cipta, rasa, dan karsa. Penghargaan yang memandang suatu kesalahan atau ketidakmampuan mencapai kualitas bukan dengan menyalahkan pihak lain tetapi focus dalam mencari akar masalah untuk dipecahkan dalam kerjasama. Sebagaimana diajarkan Ishikawa, suatu QCC bertujuan mengontrol kualitas sesuai keinginan pelanggannya, pelanggan di sini adalah pelanggan internal atau proses berikutnya. Dengan memuaskan proses berikutnya, maka pengendalian kualitas sudah terjadi tidak di akhir produksi saja, tetapi jauh ke depan yaitu di dalam proses atau bahkan pada saat masih input produksi.

Pengendalaian kualitas dilakukan pada saat sebelum proses, selama proses, dan setelah proses produksi merupakan jiwa TQM. Jika di dalam setiap langkah proses, orang-orang yang terlibat memahami bahwa apapun yang mereka hasilkan akan mempengaruhi kualitas secara keseluruhan sedemikian rupa sehingga tidak mengirimkan barang yang tidak sesuai standar kualitas. Demikian pula proses ‘si penerima’ dari proses sebelumnya dengan tegas hanya menerima barang yang sesuai standar dan mengembalikan barang rejected ke proses sebelumnya.

Dan jika dapat terbangun suatu kesadaran di setiap bagian proses bahwa hanya yang sesuai standarlah yang akan kirimkan dimana next process adalah konsumen, maka akan lahirlah barang-barang yang berkualitas tinggi di ujung proses dengan biaya yang kompetitif. Karena ketidak-sesuaian dengan standar kualitas telah ditemukan sedini mungkin dengan biaya jauh lebih ringan jika terjadi rework atau scrapping pada saat barang masih dalam kondisi semi finished goods.

Kutipan Bijak :

“Sesuatu Akan mampu Kita Dapatkan Jika kita Tau Caranya Dan Mau Memulai juga  Mencoba.
Sukses Atau Gagal Sesungguhnya Keduanya Memiliki Nilai yang Sama tergantung kesungguhan kita dalam    Berusaha”
(N.A.Mancunk)
Dipublikasi di Bisnis, Manajemen Pemasaran | Tag , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Empat Faktor Utama Yang Mempengaruhi Jalannya Manajemen Marketing

Oleh Mr.Endi

Jika menyinggung istilah tentang manajemen pemasaran, maka kita akan selalu menyinggung empat faktor utama yang sangat  mempengaruhi jalannya suatu manajemen marketing. Ke-empat faktor tersebut diantaranya adalah harga, daerah pemasaran, kegiatan promosi atau pemasaran yang dilakukan oleh pihak perusahaan, dan faktor utama yang paling penting yaitu produk itu sendiri. Agar dapat terjadi penjualan yang optimal, maka diperlukan tata kelola manajemen pemasaran yang tepat pula. Untuk produk sendiri dibedakan atas dua hal yang mendasar, yaitu produk real yang siap dipasarkan seperti produksi mobil, handphone, makanan, minuman dan sebagainya. Kemudian jenis produk ke dua adalah berupa produk jasa, sebagai contoh dari produk jasa ini adalah produk pelayanan komunikasi, jasa perawatan badan seperti spa, dan masih banyak lagi.

Kemudian suatu produk jika ditinjau dari sudut pandang konsep yang dikemas, maka kiat akan mengenal produk dengan kategori produk dengan kualitas tinggi, produk jenis ini juga dapat dibilang dengan istilah produk yang memiliki klasifikasi fitur dengan disain unik, dan biasanya ditujukan untuk kalangan atas, sehingga wajar jika produk dengan konsep seperti ini dibandrol dengan harga diatas rata-rata dan biasanya manajemen pemasaran ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Jika kita membandingkan produksi mobil dari Jepang dengan produksi Eropa, maka akan terlihat jelas dari segi kualiats, sehingga hal ini menyebabkan adanya margin dari segi harga. Ada juga produk yang ditinjau dari sudut pandang konsep dimana dapat dikategorikan ke dalam kategori ‘me too’. Produk me too ini dapat didefinisikan sebagai produk yang  menggunakan disain dari produk yang terlebih dahulu ada dipasaran dengan merek yang berbeda. Dengan kata lain produk me too dapat dikatakan sebagai produk jiplakan dari produk pendahulunya dengan disain yang agak beda sedikit. Sebagai contoh, produk minuman mineral ‘Aquades’ merupakan produk me too dari produk ‘Aqua’. Suatu perusahaan jika memproduksi produk me too, maka akan diperlukan usaha yang agak keras dalam pengelolaan manajemen pemasaran. Manajemen pemasaran untuk produk me too harus dilakukan dengan cermat agar produk me too dapat bersaing dengan produk dengan produk pendahulun

Kegiatan Promosi

Ketika suatu produk telah dilepas di pasaran maka tujuan utama pemasaran agar terjadinya penjualan adalah dengan adanya konsumen. Untuk merangkul konsumen agar mendukung terjadinya penjualan maka diperlukan juga manajemen pemasaran yang terorganisasi dengan baik. Salah satu manajemen pemasaran yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan kegiatan promosi. Promosi sendiri dapat didefinisikan sebagai daya upaya atau kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untukmengenalkan produk kepada konsumen dengan tujuan utama untuk  membujuk konsumen agar mendukung terjadinya transaksi penjualan. Dalam melakukan suatu promosi diperlukan strategi pemasaran yang optimal agar didapatkan hasil yang maksimal pula.

Dalam melakukan kegiatan promosi yang saat ini sedang ng-trend digunakan oleh kebanyakan perusahaan adalah dengan malakukan kombinasi teknik promosi yang terdiri atas penjualan yang dilakukan secara pribadi atau sering lebih dikenal dengan istilah ‘personal selling’, promosi yang dilakukan dengan cara melalui iklan yang dapat dilakukan baik dengan media elektronik da media cetak, promosi dengan jalan publikasi yang biasanya dilakukan pada event-event tertentu yang biasanya bersifat dapat mengkumpulkan masa yang besar, dan terakhir adalah promosi dengan cara door to door dimana hal ini lebih dikenal dengan istilah ‘sales promotion’.

Sekilas Info: Mau Bisnis Online dengan Komisi 100 Ribu/Jam???

KLIK DAFTAR!!!

Kutipan Bijak :

“Sesuatu Akan mampu Kita Dapatkan Jika kita Tau Caranya Dan Mau Memulai juga  Mencoba.
Sukses Atau Gagal Sesungguhnya Keduanya Memiliki Nilai yang Sama tergantung kesungguhan kita dalam    Berusaha”
(N.A.Mancunk)
Dipublikasi di Bisnis, Manajemen Pemasaran | Tag , , , , , , , , | Meninggalkan komentar